Sejarah, Fakta dan Miskonsepsi Tentang Introvert

Introvert merupakan istilah psikologi bagi pribadi pendiam dan penyendiri. Berbanding terbalik dengan ekstrovert yang suka berteman, bersifat memimpin dan nyaman menjadi sorotan. Kedua istilah psikologi ini sebenarnya merupakan stigma sosial.

Introvert dan Ekstrovert 

Photo by Simon Migaj on Unsplash

Mengutip tulisan Susan Horowitz Cain dalam bukunya yang berjudul Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking, ia menyebutkan bahwa,

"Stigma dan perlakuan tak adil pada pribadi-pribadi introvert sudah berlangsung sejak abad ke-19. Stigma ini makin parah di awal abad ke-20. Bahkan menimpa sebagian besar manusia di muka bumi yang pada dasarnya adalah introvert."

Sejarah Introvert dan Ekstrovert

Sejarah kedua istilah ini berawal ketika industri di Amerika Serikat bangkit pada awal abad ke-19. Masyarakat dunia Barat yang memiliki dasar pemikiran Yunani-Romawi yang memuja-muja orasi dan lebih menyukai orang-orang yang beraksi cenderung "menganggap rendah" orang yang merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.

Pada akhirnya, karena dianggap sebagai ketidakcakapan dalam berkomunikasi dan bersosial antar sesama, mereka yang ekstrovert memandang sifat introvert yang dimiliki oleh seseorang sebagai parasit dan kekecewaan.

Ketika industri bangkit, banyak perusahaan mulai mendefinisikan karakter-karakter yang mereka anggap layak untuk dipekerjakan di perusahaannya. Sehingga, kecakapan dalam berkomunikasi mulai diprioritaskan dan "menjadi yang dibutuhkan" di dunia industri.

Pada kenyataannya, justru tak semua orang senang bergaul atau bahkan merasa nyaman menjadi sorotan. Maka, mereka yang lebih suka menyendiri lama kelamaan harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri saat itu. Meskipun begitu, tidak semua orang yang memiliki kepribadian ekstrovert menjadi pemimpin yang baik.

Pola-pola pikir demikian yang kemudian oleh Cain disebut sebagai dasar diskriminasi tak kasat mata yang menimpa para introvert. Mereka yang memiliki sifat dasar introvert cenderung menjadi masyarakat kelas dua di dunia yang didominasi ekstrovert.

Meski kepribadian introvert ini sering disalahpahami sebagai pribadi yang pemalu, pendiam dan antisosial, padahal ada perbedaan yang sangat jelas antara ekstrovert dan introvert.

Definisi Introvert dan Ekstrovert

Cain, secara garis besar mendefinisikan istilah introvert sebagai pribadi yang mengumpulkan energi dari dalam dirinya sendiri. Sementara ekstrovert adalah pribadi yang mengumpulkan energi dari luar dirinya.

Dengan kata lain, mereka yang introvert memerlukan lebih banyak waktu untuk sendiri agar dapat mengumpulkan energi dibanding mereka yang ekstrovert.

Oleh karena itu, wajar apabila pribadi yang introvert seringkali tidak ikut berkumpul dengan teman-temannya karena energi mereka justru akan tersedot oleh keramaian. Sebaliknya, pribadi ekstrovert justru mendapatkan energi dari keramaian tersebut.

Sementara orang-orang yang pemalu adalah mereka yang merasa tertekan ketika bertemu dengan banyak orang. Perasaan tertekan atau stres yang dialami oleh mereka yang pemalu adalah buah dari ketakutan atas anggapan dan pikiran orang lain terhadap dirinya.

Justru pribadi yang introvert tidak demikian, ia tetap percaya diri meskipun berada dalam keramaian. Hanya saja, ia akan lebih senang untuk terlibat di belakang layar ketimbang harus menjadi pusat perhatian.



Kesalahpahaman-kesalahpahaman ini lah yang akhirnya menggiring masyarakat dunia menuntut pribadi introvert untuk dapat berperilaku sebagaimana ekstrovert.

Padahal tak ada yang salah dari keduanya, baik ia pribadi ekstrovert maupun introvert. Justru menurut Cain, semua orang memiliki ruang lingkupnya masing-masing dan tetap bisa gemilang dengan menjadi dirinya sendiri.

Justru, memaksa seseorang untuk menyeberangi karakter seperti yang dialami oleh para introvert akan berdampak buruk pada pengembangan dirinya.

Dalam tulisannya, Cain juga menyatakan bahwa, "Setiap kamu mencoba menjalani hidup sebagai pribadi yang bukan diri kamu sendiri, seiring waktu separuh jiwamu menghilang. Kamu tidak akan lagi ingat bagaimana cara menghabiskan waktu seperti biasanya."

Cain menegaskan bahwa, orang-orang yang dipaksakan menyeberang dari karakter aslinya akan berakhir kesulitan mendefinisikan kebahagiaan yang mereka inginkan.

Jadilah Diri Sendiri

Introvert: Jadilah diri sendiri
Photo by Amanda Jones on Unsplash

Penjelasan Cain mengenai nasib introvert di dunia yang didominasi oleh ekstrovert ini rupanya disambut baik oleh mereka yang terwakilkan suaranya.

Jenna Goudreau, dalam tulisannya di Forbes yang berjudul So Begins A Quiet Revolution Of The 50 Percent, menyebutkan bahwa, pandangan Cain disambut baik oleh para introvert yang merasa terwakili keberadaannya. Keinginan para introvert untuk tetap seimbang dalam hidup merasa disorot untuk pertama kalinya.

Sejumlah penelitian penting seperti yang dilakukan oleh Cain setidaknya dapat membantu para introvert untuk tidak terjebak dalam stigma para ekstrovert.

Fakta dan Miskonspesi Introvert

Fakta dan miskonsepsi Introvert
Photo by Fabrizio Verrecchia on Unsplash

Tampaknya tidak sedikit masyarakat yang menekankan perilaku mudah bergaul dan lantang saat berbicara kepada anak-anaknya. Justru hal ini bisa membuat stres mereka yang memiliki kepribadian introvert, yang pendiam dan suka menyendiri.

Cain, seorang ahli yang juga merupakan seorang introvert memberikan pesan positif mengenai sifat introvert kepada para remaja yang bertujuan untuk membantu orangtua dan guru memahami anak-anak yang introvert agar dapat mengembangkan kemampuan dan kekuatan rahasia mereka.

Mereka yang introvert belum tentu orang yang pemalu, mereka bahkan bisa sangat terampil secara sosial. Akan tetapi mereka lebih cenderung untuk menyendiri, melakukan hal-hal yang tidak menimbulkan suara atau hanya sesekali sekedar bergaul dengan salah satu teman dekatnya.

Menurut Susan Cain, dari situlah mereka yang introvert mendapat energi. "Daya" mereka bisa cepat habis oleh aktivitas-aktivitas yang berisik atau ramai.

"Ini ada kaitannya dengan bagaimana sistem saraf bereaksi pada stimulasi," ujar Cain. Menurutnya, pandangan bahwa ekstrovert lebih sukses daripada si introvert adalah salah.

"Orang-orang seperti Bill Gates, J.K Rowling dan Dr. Seuss, mereka adalah para introvert yang berkontribusi pada budaya kita dalam berbagai cara. Mereka berkontribusi karena temperamen mereka yang diam," tambahnya.

"Tetapi banyak orang tidak menyadari hal itu. Saat ini, kita hidup dalam masyarakat yang mendorong semua orang, mulai dari mereka masih anak-anak, untuk banyak bergaul dan selalu ceria bahkan jika itu bukan sifat asli mereka sama sekali."

Cain juga menyebutkan bahwa ada banyak orang yang memiliki kepribadian introvert dibandingkan yang orang-orang kira selama ini, yaitu sekitar satu dari setiap dua atau tiga orang.

Hasil dari wawancaranya dengan ratusan remaja, orangtua dan guru, Cain juga menemukan bahwa orang introvert dapat menjadi pemimpin yang efektif.

"Anak-anak dapat menjadi seorang pemimpin dengan caranya sendiri. Saya ingin semua anak mengetahui bahwa mereka dapat menggunakan cara mereka sendiri dalam melakukan banyak hal dan menjadi kuat," ujarnya.

Tips untuk Orangtua dan Guru

Tips untuk orangtua dan guru menghadai anak introvert
Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Cain pun menambahkan bahwa remaja yang memiliki kepribadian introvert biasanya ingin segera pulang ke rumah dan mengisi 'baterainya' selepas belajar. Jadi, jangan paksa mereka untuk mengikuti aktivitas lain sepulang dari sekolah.

Kemudian bagi para guru, Cain mengatakan bahwa murid-murid yang introvert biasanya kesulitan untuk berkembang dalam kelompok belajar yang berskala besar.

Menurut Cain, "sifat alamiah kebanyakan introvert adalah mereka ingin belajar secara independen, merenungkan dan memikirkan pelajaran. Kelompok belajar pun harus dikelola oleh para guru untuk mereka yang introvert dan ekstrovert."

Artinya, para guru harus memastikan bahwa setiap murid memiliki peran, dan tahu perannya masing-masing sehingga mereka bisa berkontribusi dalam kelompok belajarnya. Sehingga skala besar dan kecilnya kelompok belajar penting untuk diperhatikan.

Cain juga menyerukan kepada para guru untuk memberikan kesempatan pada murid-muridnya untuk berpartisipasi berdasarkan iramanya sendiri dalam diskusi kelas.

Cain menggambarkan, "hal kecil seperti melempar pertanyaan dan memanggil murid untuk menjawab lalu menunggu beberapa saat untuk mendapatkan jawabannya akan menghasilkan partisipasi yang lebih banyak daripada langsung meminta jawaban kepada murid-muridnya."

Dengan begitu, guru-guru akan mendapati muridnya yang ekstrovert dimana ia tak perlu berpikir dan memproses pertanyaan terlebih dahulu sebelum menjawab, dan murid introvert yang ingin memprosesnya terlebih dahulu.
Previous Post Next Post